Piece To Piece

Berkata-kata tanpa suara.

Anakku Mati Kemaren

Lelah sudah aku menangis, memanggil kembali namanya. Tidak ada sahutan ataupun sekedar ucapan kalo dia mendengar. Anakku mati kemaren. Ketika egonya membawanya pergi untuk selamanya. Aku tak mampu menahan kepergiannya, seperti halnya ketidakmampuanku menahan air mata ini. Seandainya dia percaya bahwa ini bukan saat yang tepat untuk berpatualang, mungkin anakku tidak mati kemaren.

Aku masih ingat saat pertama ia ikut denganku mengarungi langit yang luas. Lelah katanya, berat dan sulit mengikuti irama yang telah kami mainkan sejak dulu. Kami telah berkali-kali mengarungi langit itu, membawa anak kami menuju kehangatan, meninggalkan kedinginan dan berjuang bersama angin. Itu waktu pertama, dan aku tidak pernah mendengar lagi keluhan itu setelah ia tau betapa indahnya perjalanan yang kami tempuh.

October 27, 2008 - Posted by Saptari | SastraKu | | No Comments Yet

No comments yet.

Leave a comment