Anakku Mati Kemaren
Lelah sudah aku menangis, memanggil kembali namanya. Tidak ada sahutan ataupun sekedar ucapan kalo dia mendengar. Anakku mati kemaren. Ketika egonya membawanya pergi untuk selamanya. Aku tak mampu menahan kepergiannya, seperti halnya ketidakmampuanku menahan air mata ini. Seandainya dia percaya bahwa ini bukan saat yang tepat untuk berpatualang, mungkin anakku tidak mati kemaren.
Aku masih ingat saat pertama ia ikut denganku mengarungi langit yang luas. Lelah katanya, berat dan sulit mengikuti irama yang telah kami mainkan sejak dulu. Kami telah berkali-kali mengarungi langit itu, membawa anak kami menuju kehangatan, meninggalkan kedinginan dan berjuang bersama angin. Itu waktu pertama, dan aku tidak pernah mendengar lagi keluhan itu setelah ia tau betapa indahnya perjalanan yang kami tempuh.
No comments yet.
Leave a comment
-
Archives
- December 2009 (2)
- October 2009 (2)
- February 2009 (5)
- January 2009 (2)
- December 2008 (3)
- November 2008 (6)
- October 2008 (11)
- September 2008 (1)
- August 2008 (2)
- July 2008 (1)
-
Categories
-
RSS
Entries RSS
Comments RSS






