Piece To Piece

Berkata-kata tanpa suara.

Riam Ketukan di Wkatu Malam

Semalam tidak lagi sendiri,

walau kemaren beramai, tapi berasa sendiri

Semalam kembali berpikir,

Dulu dan saya tidak suka, sekarang dan kembali terjadi.

Ketukan riam di kamar sebelah,

ketukan melas, seorang yang ingin di dengar.

riam itu deras mengalir, menghantam kayu pelapis

gelombangnya menggetarkan, bukan hanya gendang tapi juga hati

Melar beriam-riam berlama lama.

Ingin rasanya teriak saja, bukankah kalian sudah dewasa

Masih juga beriam itu mengalir

Dengan nada yang sama melasnya

Pelan dan nyaring silih berganti,

Harusnya ini bisa dibicarakan, Kenapa tidak?

Bicarakan dengan kata, bukan dengan riam ketukan yang memelas itu.

Kukatakan padamu, dan kubilang Besok Kita Jangan Begitu

Dan kau bilang, Besok Kita bisa Membicarakan banyak hal.

February 24, 2009 - Posted by Saptari | Uncategorized | | 2 Comments

2 Comments »

  1. wah puitis kali pun dikau Dek.. :p

    Comment by astyka | February 24, 2009

  2. riiiiiiiii…opo to kuwi??

    Comment by Melati | February 26, 2009


Leave a comment