Piece To Piece

Berkata-kata tanpa suara.

Bagaimana Hidup Bergulir, Kadang Kita Perlu Mengingatnya…Walau Cuma Sebentar

Bagaimana hidup seseorang akan dijalani sungguh tak ada seorang pun yang tau sebelumnya. Demikian juga apa yang terjadi pada saya selama ini. Menyangkut pekerjaan, pergaulan, maupun kehidupan pribadi.  Ada kalanya kita tidak menyadari perubahan yang terjadi semenjak masa kuliah atau masa sekolah sampai dengan saat sekarang ini. Mungkin kebanyakan orang (termasuk saya) adalah tipe orang yang seperti itu. Tiba-tiba saja tersadar saat sudah berusia cukup matang, memperoleh pekerjaan yang lumayan mencukupi, dan menjalani dunia yang sedikit berbeda dari masa lalu.

Rutinitas sehari-hari tidakmembosankan namun juga bisa dibilang biasa saja. Kadang kala kita menyempatkan waktu untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang belum sempat kita lakukan di masa lalu, baik karena dulu belum mampu atau memang baru berkeinginan sekarang. Ambil contoh saya sendiri, dulu saya suka berkebun; pernah punya kebun kacang tholo dan kebun singkong sendiri (saat SD disamping rumah), membuat dan menata taman saya sendiri lengkap dengan kolam yang terbuat dari mantel hujan bekas; dulu saya suka membuat prakarya dengan ide2 sendiri; misal guci dari perpaduan pahatan dan anyaman bambu, hiasan sapta pesona dari tanah liat, dan pajangan ranting bambu dengan bunga sepet plus burung-burung pipit yaang bertengger di atasnya, boleh dikatakan saya membuatnya dengan ide-ide unik yang tidak disamai temen saya pada waktu itu (menurut saya).

Seiring dengan berjalannya waktu, minat saya di bidang tanam menanam dan prakarya ini tidak banyak berubah. Sekarang saya juga suka menjahit, dan memikirkan ide-ide kreatif yang berkaitan dengan pengolahan sampah menjadi perkakas yang dapat dimanfaantkan kembali. Hal ini masih erat kaitannya dengan kecintaan saya terhadap lingkungan. Bisa dibilang saya terobsesi melindungi ingkungan dari kerusakan, dalam berbagai bentuk.

Selain hal-hal yang memang sudah saya cintai sedari kecil, perubahan kurun waktu juga mengenalkan saya pada kegemaran-kegemaran baru antara lain fotografi dan traveling. Karena dulu saya tidak berkesempatan untuk mengenal lebih awal tentang 2 kegiatan yang sangat menyenangkan ini. Belum hobi yang serius, hanya kegemaran potret sana-sini, trus jalan-jalan ke beberapa tempat yang belum pernah dikunjungi dengan sahabat atau sodara. Hal ini baru karena pada masa lalu jarang atau bahkan tidak pernah dilakukan.

Cukup indah untuk diingat. Waktu sudah mengajari kita banyak hal….

Tidak Pernah Ada Kata Terlambat atau Terlalu Cepat untuk Bikin Paspor

Setelah sekian lama berkeinginan membuat paspor, akhirnya pada bulan Maret lalu saya memantapkan diri untuk membuat paspor. Akhirnya, walaupun tampak sangat pede jalan sendiri ke kantor Imigrasi. Dari pada ditunda-tunda malah bikin penyakit hehehehhe. Ini pas banget kenapa saya memilih judul di atas untuk postingan kali ini. Sudah lama banget tertundanya, walaupun sekarang juga belum ada rencana buat dipake itu paspor-nya. Berhubung sudah gak sabar nunggu barengan yang juga mau bikin, menurut saya tidak masalah berjuang maju sendiri, asal sudah punya persiapan yang matang. Setelah melakukan riset yang cukup (baca: googling), sepertinya pendaftaran secara online merupakan pilihan yang paling praktis dan efisien. Terutama masalah waktu, rasanya males banget bolak-balik ijin keluar kantor cuma buat bikin paspor. Lagian saya ini orangnya males sama yang namanya hal-hal yang sebenarnya bisa dibikin efisien tapi jadi ribet. Bayangkan 4 kali bolak-balik kantor imigrasi mana jaraknya jauh lagi. Ogah deh. Disini saya coba membandingkan dengan pengalaman beberapa atasan saya, yang kebetulan juga baru bikin paspor tetapi secara manual tanpa mendaftar online.

Sebelum dibahas langkah-langkah kemaren pas bikin paspor, disiapin dulu dokumen-dokumen yang diperlukan, baik secara online maupun manual kurang lebih sama nih dokumennya. Tergantung kondisi masing-masing juga. Untuk saya, dokumen yang saya siapkan antara lain:

  1. KTP
  2. Akta Kelahiran/ Ijazah
  3. Kartu Keluarga
  4. Surat rekomendasi atasan

Cuma itu aja kok, simpel aja kan? Yang disiapkan dokumen asli dan foto copy di kertas A4. Bagi yang melakukan pendaftaran online dokumen tersebut juga harus di scan dulu, dijadikan file .jpg. Harus ini, soalnya kemaren sempat dalam bentuk .jpeg ternyata tidak bisa. Oh ya, jangan lupa ditentukan mau bikin paspor yang 24 lembar atau 48 lembar, soalnya biayanya beda. Pengalaman kemaren soalnya ada temen yang salah isi di pendaftaran online maunya 48 tapi dipilih 24, di kantor imigrasi gak bias diterusin. Harus ulang lagi pendaftaran onlinenya. Kemaren biayanya Rp. 255.000,00 kalo gak salah untuk yang paspor isi 48 lembar.Setelah siap semua, tinggal jalan deh ke kantor Imigrasi terdekat. Gak harus jalan sih…bisa naik motor, mobil atau bis…hehhehehe. Berhubung kantor Imigrasi atu-atunya di Jogja Cuma yang di Jl. Solo ituh, terpaksa deh kesana. Klo bias ke Wates mending di wates soalnya. HAHA. Setelah sampe, baru kita mulai deh langkah-langkahnya:

Secara Online

Secara Manual

Tgl 12 Maret 2013

  1. Pendaftaran online di sini http://ipass.imigrasi.go.id:8080/xpasinet/faces/InetMenu.jsp
  2.  Upload dokumen-dokumen

Tgl 17 Maret 2013

  1. Mengambil Formulir

Tgl 13 Maret 2013

  1. Ambil Formulir
  2. Memasukkan berkas (tidak perlu ambil nomor antrian dulu)
  3. Ambil antrian (pembayaran pake no D(angka); beda dengan antrian memasukkan berkas untuk non online
  4. Membayar
  5. Foto dan Wawancara

 

Tgl 18 maret 2013

  1. Ambil antrian
  2. Memasukkan dokumen

Tgl 19 Maret 2013

  1. Pengambilan paspor

Tgl 20 Maret 2013

  1. Ambil antrian (pembayaran pake no D(angka); beda dengan antrian memasukkan berkas
  2. Membayar
  3. Foto dan wawancara

-

Tgl 26 Maret 2013

  1. Pengambilan paspor

 

                Udah deh gitu dowang. Udah jadi si buku hijaunya. Gampang kan? Makanya ayo bikin Parpor bagi yang belum. Kejar cita-cita mu untuk bisa menjelajah ke negeri-negeri lain….

Mencoba Menerapkan Eco-Frugal Living

Wow; bahasanya Eco-Frugal Living, sepertinya terlalu heboh. Sebenarnya ini hanya tentang keinginan untuk hidup lebih hemat dan semaksimal mungkin ramah pada lingkungan. Beberapa langkah yang sudah terpikirkan antara lain:

1.       Menanam sendiri sayuran dan buah-buahan di halaman rumah.

Selain lebih sehat karena tidak menggunakan pupuk kimia  dan lebih segar karena kapan pun kita mua langsung bisa dipetik, tetapi juga dapat menekan pengeluaran untuk belanja sayuran. Untuk kegiatan ini, beberapa waktu lalu sempat dilakukan. Tetapi ternyata tidak mudah, banyak bibit yang sudah tumbuh tetapi gagal berkembang. Mungkin karena kurang siap teknik, dan media tanamnya. Tetapi tidak patah semangat, dirumah masih ada beberapa bibit, kapan-kapan akan dicoba untuk menanam lagi. Semoga tumbuh nanti. Amiin…

2.       Mengolah sampah keluarga, kalau bisa nanti meluas ke lingkungan.

Memilah sampah yang bisa didaurulang dan tidak. Dikumpulkan untuk nantinya dijual ke pemulung atau disetorkan langsung ke pengepul rongsokan. Butuh ketelatenan dan kesadaran tiap anggota keluarga.
Sudah dilaksanakan, dimulai denganmenyiapkan tempat pemilahan untuk masing-masing jenis sampah yang berbeda-beda. Sampai saat ini sudah terkumpul cukup banyak. Rencana kedepan mau survey harga beli di beberapa pengepul rongsokan dan dibandingkan. Semoga bisa jadi tambahan pemasukan. Heeee (walau sedikit banget, nanti kalau sudah masuk level komunitas, bisa dibarter dengan sayuran segar; atau dengan sistem bank sampah)

Bodong

Labeling pemilahan

Tetrapack

Post Navigation

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.