Piece To Piece

Berkata-kata tanpa suara.

Riam Ketukan di Wkatu Malam

Semalam tidak lagi sendiri,

walau kemaren beramai, tapi berasa sendiri

Semalam kembali berpikir,

Dulu dan saya tidak suka, sekarang dan kembali terjadi.

Ketukan riam di kamar sebelah,

ketukan melas, seorang yang ingin di dengar.

riam itu deras mengalir, menghantam kayu pelapis

gelombangnya menggetarkan, bukan hanya gendang tapi juga hati

Melar beriam-riam berlama lama.

Ingin rasanya teriak saja, bukankah kalian sudah dewasa

Masih juga beriam itu mengalir

Dengan nada yang sama melasnya

Pelan dan nyaring silih berganti,

Harusnya ini bisa dibicarakan, Kenapa tidak?

Bicarakan dengan kata, bukan dengan riam ketukan yang memelas itu.

Kukatakan padamu, dan kubilang Besok Kita Jangan Begitu

Dan kau bilang, Besok Kita bisa Membicarakan banyak hal.

Single Post Navigation

2 thoughts on “Riam Ketukan di Wkatu Malam

  1. wah puitis kali pun dikau Dek.. :p

  2. riiiiiiiii…opo to kuwi??

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: