Piece To Piece

Berkata-kata tanpa suara.

Archive for the category “SastraKu”

Awan Menggantung Di Puncak Imperium

Mendampingi teman diakhir keberadaanya disini

Bersama menata hati menghadapi ketidaksabaran,

Menghitung upah untuk kelebihan atau kekurangan

Awan melihat,

Menggantung diatas imperium,

Melintasinya dan sedikit memberi salam

Mendengar lagi petuah dan wejangan

Menunjukkan arti keberadaan

Perjuangkan walau sedikit

Awan menjauhi imperium,

dsc00077

Anakku Mati Kemaren

Lelah sudah aku menangis, memanggil kembali namanya. Tidak ada sahutan ataupun sekedar ucapan kalo dia mendengar. Anakku mati kemaren. Ketika egonya membawanya pergi untuk selamanya. Aku tak mampu menahan kepergiannya, seperti halnya ketidakmampuanku menahan air mata ini. Seandainya dia percaya bahwa ini bukan saat yang tepat untuk berpatualang, mungkin anakku tidak mati kemaren.

Aku masih ingat saat pertama ia ikut denganku mengarungi langit yang luas. Lelah katanya, berat dan sulit mengikuti irama yang telah kami mainkan sejak dulu. Kami telah berkali-kali mengarungi langit itu, membawa anak kami menuju kehangatan, meninggalkan kedinginan dan berjuang bersama angin. Itu waktu pertama, dan aku tidak pernah mendengar lagi keluhan itu setelah ia tau betapa indahnya perjalanan yang kami tempuh.

Kangen ma, tulisan sastra `ga jelas` KU

Semalam KU bermimpi,

tentang malam yang KUlalui

tentang fajar yang menanti

tentang siang yang menemani

juga kehangatan sore hari

dan senja yang memberikan janji

Seorang kawan membawa berita

melalui angin yang berhembus ke arah barat

seorang kawan berkata,

`istirahatlah`, dan KU bertanya `kapan?`

Mantap ia berkata,

`ketika engkau sedang semangat mengejar dunia`

`Kapan?`KU bimbang dengan jawaban itu

`ketika dunia berjarak sekepal dari jangkauanmu`.

KU hanya diam, sejenak waktu berhenti seketika

bukankah,

sekarang dunia itu sekepal jaraknya dari genggamanku?

kemarin dunia itu juga sekepal jaraknya dari genggamanku.

masihkah esok dunia itu berjarak sekepal dari genggamanku?

KU terjaga, entah jam berapa?

KU terjaga, ah..sepertinya ini saat yang tepat untuk istirahat.

 

Post Navigation